Senin, 06 Juli 2009

Inskripsi Islam Tertua di Indonesia

Judul Buku : Inskripsi Islam Tertua di Indonesia

Penulis : Claude Guillot dan Ludvik Kalus

Tebal Buku : 181 halaman

Masuknya Islam ke Indonesia telah mengukir sejarah tersendiri bagi perkembangan agama di nusantara ini. Sejak masuknya Islam, telah terjadi islamisasi besar-besaran. Sedikit demi sedikit, daerah demi daerah, kerajaan demi kerajaan dan hampir seluruh masyarakat Indonesia beralih kepercayaan dari agama dan kepercayaan sebelumnya ke agama Islam.

Tidak dapat disangkal, terjadi perbedaan dikalangan ahli sejarah seputar awal masuknya Islam ke Indonesia. Selain babad dan hikayat yang berisi penuh legenda, prasasti-prasasti Islam tertua abad ke-15 dan ke-16 dalam bentuk batu nisan dan inkripsi, juga memberikan gambaran penyebaran agama Islam dengan adanya riwayat tentang kisah-kisah tokoh dan pembangunan bangunan-bangunan suci. Namun sayangnya semua prasasti tersebut sebagian besar berbahasa Arab, terlalu singkat dan sukar dipahami maknanya sehingga sangat dibutuhkan penelitian yang teliti dengan membandingkannya dengan sumber-sumber arkeologi dan sejarah daerah lain.

Inkripsi-inkripsi Islam tertua di Nusantara memberikan gambaran tentang pengaruh budaya Islam dan bahasa Arab terhadap kebudayaan Nusantara. Inkripsi ini juga mengisyaratkan betapa kompleknya referensi agama dan politik seorang tokoh agama di Indonesia khususnya di Pulau Jawa pada abad ke-16. Perjuangan seorang ulama atau tokoh politik sering diabadikan dalam bentuk tulisan-tulisan di Batu Nisan, Meriam, atau dinding mesjid

Penelitian terhadap inkripsi-inkripsi yang tertera di batu nisan, mesjid dan benda-benda peninggalan kebesaran Islam yang menyebar di berbagai pelosok Indonesia telah dilakukan oleh pakar arkeologi dan sejarawan. Misalnya dua orang peneliti Barat Mosquette (Belanda) dan Paul Ravaisse (Perancis). Sebagaimana penelitian-penelitian lain, penelitian yang dilakukan oleh pakar-pakar arkeologi ini belum bersifat final, sehinggga membuka peluang munculnya penelitian baru. Dalam buku ini Claude Guillot dan Ludvik Kalus memaparkan hasil temuan mereka setelah meneliti prasasti yang terdapat di daerah Jawa dan Sumatera. Penelitian kedua tokoh ini memberikan informasi tentang kebenaran penafsiran dan cerita yang selama ini berkembang.

Inkripsi Islam tertua di Indonesia terdapat pada batu nisan Leran (Jawa) berangka tahun 575H/1082 M. Setelah menyeliki bentuk batu dan unsur geografis yang terkait dengan keberadaan batu ini, keduanya menyimpulkan batu-batu ini berasal dari luar Pulau Jawa dan dunia Nusantara, yaitu suatu daerah yang dekat dengan pusat historis dunia Islam. Hal ini menunjukkan telah terjadi kontak dan hubungan antara masyarakat Nusantara dengan daerah-daerah Islam seperti Kairo dan Iran. Kesimpulan ini membantah pendapat Ravaisse. Menurut Ravaisse keunikan relief dan warna serta bentuk batu yang kebiru-biruan membuktikan bahwa batu nisan ini berasal dari lokal bukan diimpor dari daerah lain.

Disamping inkripsi ini juga ditemukan Cap Lobu Tua di Barus (Sumatera). Di atasnya terdapat dua relief timbul bertulisan Allah dan Muhammad. Cap Lobu Tua ini diperkirakan berasal dari abad ke-10 atau ke-11 dari daerah luar Indonesia. Syair melayu yang terdapat di atas salah satu dari kedua batu nisan seorang putri raja di Minye Tujuh, Aceh yang berangka tahun 781 H (1380M) juga menunjukkan adanya pengaruh Arab terhadap kerajaan ini. Sekalipun tulisan-tulisan dalam prasasti ini tidak semua dapat dibaca, karena ada beberapa kata yang sulit dipahami. Namun terlihat pengaruh Bahasa Arab dalam penulisan huruf dan tata letak teksnya.

Informasi baru yang sangat menakjubkan dari hasil kajian Claude Guillot dan Ludvik Kalus ini adalah kisah tentang Hamzah Fansuri, seorang penyair melayu yang terkenal. Dalam penyedikannya di Mekah, Claude Guillot dan Ludvik Kalus menemukan batu nisan di Mekah yang memuat nama Syaykh Hamza bin `abd Allah al Fansûrî, meninggal tanggal 9 Rajab 933 atau 11 april 1957. Diperkirakan nama ini adalah milik penyair sufi melayu yang dikubur di Mekah. Hamzah tidak hidup pada bagian kedua abad ke-16, namun dia telah telah hidup lebih awal. Barus, daerah asal penyair ini pada abad ke-15 telah menjadi pusat-pusat agama dan budaya alam Melayu selama periode sebelum abad ke-17 di samping Pasai dan Malaka.

Claude Guillot dan Ludvik Kalus juga meneliti relief Arab yang terukir di dinding meriam yang terdapat di Banten dan di museum militer Invaliden Bronbeek di Arnhem, Belanda ( meriam ini awalnya terdapat istana Aceh di Kota Raja yang direbut pada tahun 1874 oleh Belanda). Penelitian ini mempertanyakan penelitian sebelumnya yang menjelaskan asal meriam ini dari kerajaan Turki.

Setelah meneliti inkripsi yang terdapat dalan tiga meriam ini, Claude Guillot dan Ludvik Kalus menyimpulkan bahwa meriam ini bukan berasal dari kiriman resmi pemerintah Turki. Mengutip pendapat Crucq, meriam-meriam yang terdapat di Aceh yang berasal dari Turki ini menandakan telah terjadi hubungan antara kerajaan Aceh dengan Turki semenjak abad ke-16 dan adanya pemasokan senjata dan pengiriman artileri oleh Turki ke Aceh namun bukan berasal dari pemerintah Istanbul.

Meriam-meriam ini juga tidak semuanya berasal dari Turki. Dalam meriam lain ditemukan nama nama Chingis Khan. Sehingga dapat dipastikan meriam ini berasal dari Gujarat bukan Turki.

Namun terlepas dari asal meriam ini, jelas telah ada hubungan antara Aceh, Turki dan Gujarat semenjak abad ke-16. Hubungan ini juga telah banyak menyisakan pengaruh budaya Turki terhadap Aceh . Misalnya kelembagaan para kasim, yang di seluruh Nusantara hanya terdapat di Aceh dan penyebaran teori-teori keagamaan seperti wahdah al wujud dan pengaruh syiah dalam upacara Asyura. Pertanyaan yang masih tersisa adalah apakah kemiripan budaya Aceh dengan Turki adalah bukti besarnya peranan orang Turki dalam penyebaran ajaran Mevlana Rumi di kepulauan Nusantara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar